Brokohan, Tradisi Jawa Timur

Senin, 22 Desember 2014

Bersamaan dengan lahirnya bayi diadakan selamatan yang disebut brokohan. Selamatan ini diadakan setelah bayi dan ibunya dirawat serta tembuni telah dikuburkan. Adapun sajian yang disediakan pada selamatan brokohan itu berupa :


Nasi tumpeng (buceng) dengan lauk-pauknya kulupan (gudhangan), telur ayam, sayur kluwih, ikan asin. Ada­kalanya dilengkapi dengan panggang ayam.
Nasi golong tujuh buah.
Nasi kuning (nasi punar). Sajian nasi kuning ini ada se­mentara orang yang menyediakan dan ada pula yang tidak.
Jajan pasar.
Bubur merah
Bubur putih.
Bubur sengkolo yaitu bubur merah yang diatasnya di­beri bubur putih.
Nasi brok, yaitu nasi yang diberikan di piring dan di­beri lauk-pauk gudhangan (kulupan).


Jalannya Upacara.

Setelah sajian tersedia, maka orang yang punya hajat mengundang sanak famili dan tetangga dekat. Selanjutnya apa­bila undangan telah hadir maka tuan rumah menyatakan ke­pada tukang kajat (pimpinan upacara) maksud dan tujuan upa­cara itu. Untuk seterusnya tukang kajat mengikrarkan maksud dan tujuan upacara itu kepada para hadirin yang hadir dalam kenduri itu. Setelah ikrar selesai, lalu diberi doa, pada umum­nya doa selamat. Setelah doa selesai, sajian dalam kenduri itu dibagi-bagikan kepada para undangan. Makanan itu sebagian dimakan di tempat itu dan sisanya dibawa pulang. Makanan yang dibawa pulang itu disebut berkat.

Di samping sajian untuk kenduri, ada sajian yang diletak­kan dibawah tempat tidur (Jawa : Longan). Sajian itu berupa bubur merah, bubur putih; masing-masing satu takir, dan tum­peng kecil yang puncaknya ditancapi lombok merah. Kemu­dian di samping pembaringan bayi diletakkan benda-benda se­perti kaca rasa, jarum, benang, keris, kain batik baru yang di­ lipat rapi. Maksud daripada tindakan itu semua adalah untuk menolak mara bahaya (sengkolo, Jawa) yang akan mengganggu bayi tersebut.

Pada waktu pelaksanaan upacara kenduri disamping doa selamat, ada sementara masyarakat yang membaca doa sebagai berikut :

“Rahayu. Aku menyaksikan bahwa sesungguhnya tiada ada Pangeran yang disembah melainkan Datingsun sendiri ialah Sang Ning Hidup Sejati, ialah Hyang Wasesa Tunggal Aku semua menyambut kepada yang ada saat ini menitis

jabang bayi yang dilahirkan ………………………………………………………………………

(nama ibu yang melahirkan).

Selanjutnya di alam fana atau dunia ini senantiasa diberi tuntunan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Mangereh Jatinya Panca Hindria Tama. Madhep jagat Padhang Hyang Maha Tunggal” x 3 (tiga kali).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional daerah Jawa Timur.Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi Daerah 1983-1984, Surabaya September 1984,  hlm. 70 – 72


http://jawatimuran.wordpress.com/2012/10/15/brokohan-tradisi-jawa-timur/

0 komentar:

Posting Komentar

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.