Tradisi Nyadran di Nganjuk Jawa Timur

Senin, 22 Desember 2014

Masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama, dan menurut para ahli seperti MacIver, Gillin dan Gillin yang dikutip dari buku ilmu sosial dasar (2008:122) menyatakan bahwa adanya saling bergaul dan interaksi karena mempunyai nilai-nilai, norma-norma, cara-cara dan prosedur yang merupakan kebutuhan bersama. Dari sinilah kita ketahui bahwa kesepakatan-kesepakatan yang berupa nilai, norma dan cara hidup tersebut yang secara kontinu telah melahirkan apa yang dinamakan kebudayaan. Kebudayaan sendiri bisa berupa kebiasaan yang telah melembaga dalam diri masyarakat dan merupakan produk dari kumpulan individu yang bersatu tersebut. Nyadran dan Fahombo merupakan apa yang disebut oleh Koentjoroningrat sebagai cipta, rasa, karsa manusia dan juga apa yang dimaksud Geertz sebuah bentuk simbol. Nyadran dan Fahombo bukan semata-mata ciptaan yang tanpa sadar dibuat oleh manusia, namun merupakan suatu hal yang secara perlahan diciptakan, dilakukan karena terdapat unsur kepercayaan dan memiliki sebuah pemaknaan dibaliknya. Fahombo adalah tradisi melompati batu yang ada di Teluk Dalam, Nias Selatan, Sumatera Utara, Orang melompati batu setinggi lebih dari dua meter oleh seorang pria yang mengenakan pakaian adat. Ajang ini diperuntukan pada para lelaki yang akan memasuki usia dewasa sebagai uji mental dan fisik, sebelum akhirnya maju dalam peperangan. Nyadran dan Fahombo adalah sama- sama kebudayaan masyarakat daerah di Indonesia. 

Masyarakat Indonesia memang mempunyai kebudayaan dan adat istiadat yang bermacam-macam, kita harus saling menghormati. Untuk kali ini yang kita bahas adalah Budaya Nyadran, Budaya ini sudah ada sejak jaman hindu budha, namun sekarang kebanyakan sudah menggunakan doa-doa islam ( meskipun dalam ajaran islam tidak ada yang namanya tradisi nyadaran ) ritual nyandrannan di desa Sono Ageng ini merupakan agenda rutin tahunan yang digelar satu tahun sekali pasca panen raya padi atau diambil hari Kamis Legi malam Jum'at Pahing. 

Ritual itu juga dilakukan meminta selamat dan kemakmuran. Acara tersebut juga merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena telah diberi panen yang melimpah. Acara ini di ikuti puluhan dayang-dayang beriringan mengantar sesaji berupa hasil bumi ke makam mbah Sahid. Tokoh yang konon menurut cerita adalah orang pertama yang babat desa, sehingga sampai sekarang dikenal dengan nama Sono Ageng, setelah sesepuh desa membacakan doa dengan disertai bakar kemenyan didepan makam. Ratusan warga yang hadir dipemakaman desa tersebut, berebut sesaji berupa hasil bumi. 

Ratusan orang menyakini, makanan maupun barang-barang yang sudah dikarak oleh dayang-dayang mulai dari balai desa sampai ke punden memiliki manfaat tersendiri, kata mbah Seman juru kunci ini salah satu juru kunci makam yang coba ditemui wartawan suara media nasional. Begitu pula masyarakat Sono Ageng selesai melakukan ritual, juga menggelar acara-acara hiburan pada malam harinya yang sangat ramai ada Pasar malam, Pertunjukkan jaranan ( Kuda Lumping ), Orkes dangdut, Wayang Kulit, Ketoprak, Tayub dan masih banyak lagi. 
Simbol kebudayaan disetiap tempat beraneka ragam dan juga memiliki pemaknaan yang berbeda pula, dari waktu ke waktu bahkan pemaknaan orang yang satu mungkin berbeda dengan yang lain, tergantung dari sudut pandang mana orang tersebut memaknai. Hal tersebut tergantung pula pada kesepakatan yang dihasilkan oleh masyarakat setempat, dimaknai apa sesuatu itu. seperti pada tradisi Nyadran, kita lihat banyak makanan yang menunjukan simbol tertentu dan memiliki makna tertentu pula tiap jenisnya, begitu pula Nyadran itu sendiri. dari masa ke masa mungkin pemaknaan telah luntur mengikuti perkembangan jaman, begitu pula dengan tradisi Fahombo. Individu memberikan ide pada masyarakat yang kemudian terjadi kesepakatan bersama yang kemudian hasilnya diresapi kembali pada masing-masing individu sebagai anggota masyarakat.

http://afrikenz.blogspot.com/2013/04/tradisi-nyadran-di-nganjuk-jawa-timur.html

0 komentar:

Posting Komentar

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.