Lagu Dolanan

Senin, 22 Desember 2014

Cublak-cublak suweng
Suwengé ting gulèndhèr
Mambu ketundung gudhèl
Pak jempol léda ledé
Sapa nggawa ndelikaké
Sir… sirpong dhelé gosong
Sir… sirpong dhelé gosong 

Lagu diatas sering kali saya dengarkan pada zaman dulu ketika malam padhang bulan tiba kampung Godog kecamatan Laren, anak-anak kecil keluar rumah untuk bermain dengan alunan tembang Padhang bulan, salain permainan cublak-cublak sueng banyak sekali dolanan tradisional yang biasanya dimainkan dibawa penerangan sinar bulan seperti gobak sodor, jarate, engkle, lompat tali, petak umpet atau sengedanan. Sunguh ramai teriakan, tawa, dan celoteh-celoteh khas anak-anak terdengar pada malam itu.
Sekarang dolanan atau perrmainan anak-anak masa lalu sekarang jarang sekali terdengar apa lagi dimanikan di Kampung Godog Kecamatan Laren tersebut. semua itu karena sudah banyak digantikan dengan permainan game atau Playstation bahkan game online di warnet yang sekarang sudah banyak di kampung-kampung, atau kalah dengan asyiknya tontonan televisi yang kurang mendidik, bahkan sekarang anak-anak setingkat sekolah dasar saja sudah asyiknya dengan game yang ada di handphone yang dia bawa sebagai teman bermain. Selain itu juga dimanjakan dengan  banyaknya fasilitas yang ada di dalam handphone seperti kamera, mp3, bahkan dengan handphone keluaran terbaru bisa melihat tanyangan televisi dari handphone tanpa harus mendapatkan pendampingan dari orang tua saat melihatnya.
            Tanpa disadari bahwa permainan modern seperti game dari handphone dan juga tontonan dari televisi memiliki efek yang kurang baik bagi perkembangan pendidikan anak karena cenderung mengarahkan dan membentuk anak menjadi seseorang yang individualis dan cenderung membuat dunianya sendiri serta menikmatinya, menjauhkan diri dari dunia nyata sehingga membawa seseorang semakin terasing dari dunia nyata. Seseorang tidak lagi perlu berinteraksi dengan orang lain untuk memainkan permainan dari game modern. dan sebagai orang sosial dia merasa kalau tidak perlu memerlukan orang lain, karena bisa bermain sendiri dengan dunia yang buatnya sendiri. Kodrat manusia sebagai menusia sosial akan terancam. Orang yang sudah bersikap individual dan asyik dengan dunianya sendiri tidak akan peduli dengan keadaan lingkungan sekitar.
            Berbeda dengan dolanan tradisonal, bahkan dalam bentuk dolanan paling sederhana pun kita membutuhkan orang lain untuk memainkanya, jadi jika dimaikan sendiri permainan menjadi tidak asyik dan unsur susprese dalam permainan menjadi berkurang, cublak-cublak sueng tidak akan ada tanpa teman, gobak sodor tidak akan terjadi tanpa sekumpulan kawan. Secara pasti dapat dikatakan bahwa dolanan tradisional dimainkan bersama dengan orang lain. Dengan demikian muncullah interaksi antar manusia.
Dolanan Tradisional mengajarkan sportivitas dan aturan main yang disepakati bersama. Memang benar bahwa sudah ada aturan umum dalam dolanan tradisional. Namun demikian untuk memulai suatu permainan pada suatu waktu, mau tidak mau, anak-anak akan berunding terlebih dahulu dan membuat kesepakatan bersama. Interaksi yang terbangun tidak hanya dalama taraf kebersamaan fisik (sosio fisik) tetapi juga efektif (sosio efektif)dan psikis (sosio psikis).
Juga ada kebutuhan untuk interaksi manusia dengan alam sekitar. Jika diperhatikan, kebanyakan dolanan tradisional tidak membutuhkan banyak alat. Alam telah menyediakan berbagai sarana untuk permainan tradisional. Petak umpet tidak perlu alat selain halaman dengan berbagai pohon dan bangunan sekitar, cublak-cublak sueng cukup beralatkan sebuah batu kecil, sementara gobak sodor dapat dimainkan berbekal halaman luas dan sebuah dahan kering untuk membuat garis. Alam sudah menyediakan alat dan sarana untuk bermain. Lebih dari itu, karena keakraban dengan alam, manusia kerap kali diajari alam (kearifan lokal) yang kadang-kadang tak bisa dipecahkan oleh nalar.
Selain itu juga banyak sekali nilai-nilai budaya yang luhur dalam setiap solanan tradisional seperti cublak-cublak sueng bukan hanya sebagai dolanan penghibur namun dalam dolanan cublak-cublak sueng orang diajarkan kepercayaan terhadap orang lain, kejujuran, menumbukkan kreatifitas dan kepribadian.
Masih banyak lagi dolanan tradisional yang ada disekitar kita yang dulu sering dimainkan anak-anak kecil di desa Godog untuk mengisi waktu luang atau istirahat di sekolah semisal: cekeran, malingan, patung-patunga, salnepan, bentik, kong-kong bolong, ciplukan, serem gendem, lompat tali, glimukan, sengedanan, nekeran, ongle, serta beberapa lagi yang belum tercatat.
Bagaimanapun juga, dolanan anak-anak tersebut perlu digalakkan kembali kendati jaman telah berubah. Perlu diingat perubahan itu harus memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Untuk itu, unsur budaya – dalam hal ini permainan anak-anak haruslah pula digalakkan dan disebarluaskan karena apat membantu manusia mencapai peradaban yang lebih manusiawi, yang memiliki etika yang baik.

Sumber : http://kabarlamongan.com/belajar-dan-bermain-dolanan-tradisional/
http://koran-zain.blogspot.com/2013/11/opini-belajar-bermain-tradisional.html


0 komentar:

Posting Komentar

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.